Jumat, 01 Juni 2012

TEKNIK SAMPLING


TEKNIK SAMPLING

A. Pengertian Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sample, teknik ini diperlukan agar sample dapat merepresentasikan atau mewakili populasi, sehingga memperkecil bias (perbedaan) yang diperoleh sample yang diambil dari populasi. Secara umum, sampel yang baik adalah yang dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi. Dalam bahasa pengukuran, artinya sampel harus valid, yaitu bisa mengukur sesuatu yang seharusnya diukur. Kalau yang ingin diukur adalah masyarakat Sunda sedangkan yang dijadikan sampel adalah hanya orang Banten saja, maka sampel tersebut tidak valid, karena tidak mengukur sesuatu yang seharusnya diukur (orang Sunda). Sampel yang valid ditentukan oleh dua pertimbangan, yang pertama adalah akurasi atau ketepatan , yaitu tingkat ketidakadaan “bias” (kekeliruan) dalam sample. Dengan kata lain makin sedikit tingkat kekeliruan yang ada dalam sampel, makin akurat sampel tersebut. Tolok ukur adanya “bias” atau kekeliruan  adalah populasi. 
Cooper dan Emory (1995) menyebutkan bahwa “there is no systematic variance” yang maksudnya adalah tidak ada keragaman pengukuran yang disebabkan karena pengaruh yang diketahui atau tidak diketahui, yang menyebabkan skor cenderung mengarah pada satu titik tertentu. Sebagai contoh, jika ingin mengetahui rata-rata luas tanah suatu perumahan, lalu yang dijadikan sampel adalah rumah yang terletak di setiap sudut jalan, maka hasil atau skor yang diperoleh akan bias. Kekeliruan semacam ini bisa terjadi pada sampel yang diambil secara sistematis
Kedua adalah  presisi. Kriteria kedua sampel yang baik adalah memiliki tingkat presisi estimasi. Presisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi kita  dengan karakteristik populasi. Contoh : Dari 300 pegawai produksi, diambil sampel 50 orang. Setelah diukur ternyata rata-rata perhari, setiap orang menghasilkan 50 potong produk “X”. Namun berdasarkan laporan harian, pegawai bisa menghasilkan produk “X” per harinya rata-rata 58 unit. Artinya di antara laporan harian yang dihitung berdasarkan populasi dengan hasil penelitian yang dihasilkan dari sampel, terdapat perbedaan 8 unit. Makin kecil tingkat perbedaan di antara rata-rata populasi dengan rata-rata sampel, maka makin tinggi tingkat presisi sampel tersebut.
    Belum pernah ada sampel yang bisa mewakili karakteristik populasi sepenuhnya. Oleh karena itu dalam setiap penarikan sampel senantiasa melekat keasalahan-kesalahan, yang dikenal dengan nama “sampling error” Presisi diukur oleh simpangan baku (standard error). Makin kecil perbedaan di antara simpangan baku yang diperoleh dari sampel (S) dengan simpangan baku dari populasi (, makin tinggi pula tingkat presisinya. Walau tidak selamanya, tingkat presisi mungkin  bisa meningkat dengan cara menambahkan jumlah sampel, karena kesalahan mungkin bisa berkurang kalau jumlah sampelnya ditambah ( Kerlinger, 1973 ). Dengan contoh di atas tadi, mungkin saja perbedaan rata-rata di antara populasi dengan sampel bisa lebih sedikit, jika sampel yang ditariknya ditambah. Katakanlah dari 50 menjadi 75.

B. Teknik  Sampling dengan Plot (quadrat sampling technique)
Teknik sampling ini merupakan teknik survey vegetasi yang paling sering digunakan dalam semua tipe komunitas tumbuhan. Petak contoh dapat berupa petak tunggal atau ganda. Bentuk petak tergantung pada bentuk morfologi vegetasi dan efisiensi sampling pola penyebaran. Sedangkan ukuran petak disesuaikan dengan bentuk morfologi jenis dan distribusi vegetasi secara vertical.
Teknik plot adalah melakukan pengamatan dengan membentuk kuadrat dimana panjang dan lebarnya sama. Namun dapat juga berbentuk empat persegi panjang atau lingkaran dengan radius tertentu. Hal ini tergantung pada kondisi vegetasi yang akan diamati. Untuk setiap plot yang dibuat di tempat pengamatan, dilakukan penghitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan dan frekuensi.  Plot-plot pengamatan ini dapat di tempatkan pada satu jalur tertentu yang sudah dibuat sebelumnya. Jalur-jalur ini biasa dalam ekologi disebut dengan nama “transect”. Posisi setiap plot pada transect dapat ditentukan secara acak (random) atau dapat pula secara sistimatik, yaitu setiap jarak tertentu. Disamping itu ada pula orang yang mengkombinasikan beberapa cara misalnya ada yang meletakkan plot-plot tersebut secara sistematik tetapi selang-seling di sebelah kiri dan sebelah kanan dari transek tersebut.

Beberapa metode dalam teknik sampling ini adalah :
1. METODE SPECIES AREA CURVE (MINIMAL AREA
Metode ini digunakan untuk menentukan luas petak contoh terkecil (minimal area) yang dianggap mewakili keadaan habitat dari suatu tipe komunitas atau tegakan . ukuran petak contoh (plot) yang akan dibuat harus mewakili keadaan vegetasi areal yang akan diteliti. Minimal area (luas minimum) adalah luas terkecil yang dapat mewakili karakteristik komunitas tumbuhan atau vegetasi secara keseluruhan.

a. Memilih suatu areal semak belukar yang akan dicari minimal area plot pengamatan
b. Meletakkan plot ukuran 0,5x0,5 m, menginventarisasi semua jenis yang berada dalam plot.
c. Memperluas plot 2x ukuran semula dan mencatat pertambahan jenis baru yang hadir pada penambahan ukuran plot ini.
d. Melakukan berulang kali sampai tidak ditemukan lagi penambahan jenis baru atau penambahan jenis baru ≤10 % total jenis.

2. METODE KUADRAT 
Metode kuadrat, bentuk percontoh atau sampel dapat berupa segi empat atau lingkaran yang menggambarkan luas area tertentu. Luasnya bisa bervariasi sesuai dengan bentuk vegetasi atau ditentukan dahulu luas minimumnya. Untuk analisis yang menggunakan metode ini dilakukan perhitungan terhadap variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi (Surasana, 1990). 
Kelimpahan setiap spesies individu atau jenis struktur biasanya dinyatakan sebagai suatu persen jumlah total spesises yang ada dalam komunitas, dan dengan demikian merupakan pengukuran yang relatife. Secara bersama-sama, kelimpahan dan frekuensi adalah sangat penting dalam menentukan struktur komunitas (Michael, 1995).

Metode kuadrat juga ada beberapa jenis:
a. Liat quadrat
Spesies di luar petak sampel dicatat.
b. Count/list count quadrat
Metode ini dikerjakan dengan menghitung jumlah spesies yang ada beberapa batang dari masing-masing spesies di dalam petak. Jadi merupakan suatu daftar spesies yang ada di daerah yang diselidiki.
c. Cover quadrat (basal area kuadrat)
Penutupan relatif dicatat, jadi persentase tanah yag tertutup vegetasi. Metode ini digunakan untuk memperkirakan berapa area (penutupan relatif) yang diperlukan tiap-tiap spesies dan berapa total basal dari vegetasi di suatu daerah. Total basal dari vegetasi merupakan penjumlahan basal area dari beberapa jenis tanaman. Cara umum untuk mengetahui basal area pohon dapat dengan mengukur diameter pohon pada tinggi 1,375 meter (setinggi dada).
d. Chart quadrat
Penggambaran letak/bentuk tumbuhan disebut Pantograf. Metode ini ter-utama berguna dalam mereproduksi secara tepat tepi-tepi vegetasi dan menentukan letak tiap-tiap spesies yang vegetasinya tidak begitu rapat. Alat yang digunakan pantograf dan planimeter. Pantograf diperlengkapi dengan lengan pantograf. Planimeter merupakan alat yang dipakai dalam pantograf yaitu alat otomatis mencatat ukuran suatu luas bila batas-batasnya diikuti dengan jarumnya. 
Cara kuadran ini memiliki keunggulan yaitu terlanjur lebih mudah dan sedehana. Cara pengambilan datanya yaitu sebagai berikut :
1. Cara kuadran point
• Buat garis kompas
• Tentukan titik pengamatan (plat)
• Buat garis silang yang tegak lurus sehingga terbagi empat kuadran (daerah)
• Pilih satu pohon yang terldekat dari titik pengamatan untuk masing-masing kuadran sesuai dengan criteria (pohon,poles/tiang,sapling)
• Ukur diameternya
• Ukur jaraknnya terhadap titik pengamatan
Keragaman spesies dapat diambil untuk menanadai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sebagai jumlah spesies diantara jumlah total individu dari seluruh spesies yang ada. Hubungan ini dapaat dinyatakan secara numeric sebagai indeks keragaman atau indeks nilai penting. Jumlah spesies dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi makin stabil (Michael, 1995).
Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuarter (Rugayah et al., 2005). Sebanyak 100 petak ukur dibuat secara berurutan dalam satu baris dengan jarak antar petak ukur sepanjang 10 m. Petak-petak ukur dibuat memotong garis kontur agar perubahan komposisi jenis tumbuhan dapat teramati (Shukla dan Chandel, 1996).

C. Teknik Sampling tanpa Plot (Plotless sampling technique)
Cara ini sering pula disebut dengan nama “distance plotlass methods”. Dinamakan demikian karena dengan metode ini  kita tidak usah membuat petak-petak pengamatan dan data utama yang diamati adalah jarak antara satu individu tumbuhan dengan individu lainnya. 
Teknik sampling ini digunakan untuk mengatasi kesulitan praktisi dalam pembuatan kuadrat di lapangan. Pada dasarnya teknik ini memanfaatkan pengukuran jarak antar individu tumbuhan atau jarak dari pohon yang dipilih secara acak terhadap individu terdekat dengan asumsi individu tumbuhan tersebut tersebar secara acak.
Metode tanpa petak ini dapat dibagi menjadi :
1. Metode Point Intercept
Metode ini khusus untuk dipakai pada lapisan tumbuhan bawah atau herba yang sangat rapat. Sehingga dengan metode kuadrat akan kesulitan untuk menghitung jumlah individu, dan kalau itu dikerjakan akan memakan waktu lama sekali. Dalam pelaksanaannya metode ini dapat memakai point frequnci frame dan point quadrat. Point yang pertama adalah  Point-frekuensi  Frame berupa bentuk kayu atau bahan lain dengan panjang 1 meter dan diberi lobang 10 dengan interval jarak sama, dan kemudian ada dua tiang sehingga dapat berdiri tegak kalau dipakai untuk ploting di lapangan.
Dengan bantuan kawat yang dimasukan melalui lobang tersebut kearah bawah, maka pada suatu ketika akan menyentuh tumbuhan yang ada. Dalam hal ini kita hanya mencatat tumbuhan yang pertama tersentuh saja, sedangkan tumbuhan yang dibawahnya kalau ada tidak termasuk hitungan. Point yang kedua adalah point quadrat. Pada dasarnya point quadrat adalah sama dengan point freukensy frame. Point kuadrat jauh lebih akurat dari pada memakai point freukency frame.
2. Metode Line Intercept
Metode ini cocok untuk menentukan cover dan frekuensi lapisan semak perdu. Pada prinsipnya dari bentuk transek diganti menjadi bentuk garis. Kemudian semua proyeksi tajuk daun yang terpegat oleh garis diukur panjangnya. Kalau panjang garis yang dipakai 100 m, maka dapat ditentukan cover suatu jenis per 100 m. jadi dengan memakai metode point intercept dan line intercept akan didapatkan dua parameter saja, yaitu cover dan frekuensi. Densitas sama sekali tidak dapat ditentukan dengan metode tersebut.
3. Metode Point-Centered Quartered
Metode ini paling cocok dipakai untuk vegetasi yang mempunyai penyebaran pohon regular secara relative. Banyak peneliti menggunakan metode ini untuk analisis vegetasi hutan karena mempunyai kelebihan antara lain : praktis, hemat tenaga dan waktu.
Garis transek utama diletakkan dari tepi area kajian menuju ke tengah atau kearah perubahan gradien lingkungan terpilih. Kemudian garis sub-transek dibuat tegak lurus dengan transek dengan interval jarak yang sama atau sekehendak. Selanjutnya pada setiap sub-transek diletakkan titik sampel yang disusun acak atau sistematik untuk penempatan 4 quarter atau kuadran pada setiap titik sampel. Pada tiap quarter diukur jarak pohon dewasa terdekat dengan titik sampel, serta diameter batang setinggi dada.
4. Metode Jarak (Distance Method)
Dengan metode ini dapat menentukan tiga parameter sekaligus yaitu frekuensi, densitas dan cover dominasi. Jumlah individu dalam suatu area dapat ditentukan dengan mengukur jarak antara individu atau jarak antara titik sampling dengan individu tumbuhan. Penentuan densitas dengan pengukuran jarak ini kemudian dikenal sebagai metode jarak.

D. Langkah Penentuan Letak Sampel
Dalam suatu sampling kita akan mengamati suatu dengan luas tertentu yang disebut sebagai petak contoh ( sampling plot). Sampling yang sesuai sangat diperlukan agar memperoleh gambaran yang mendekati kebenaran mengenai sifat-sifat populasi vegetasinya dengan sejumlah petak contoh yang relatif sedikit yang dapat mewakili dari keadaan seluruh vegetasi yang diamati. Karena keadaan vegetasi sangat beragam, maka sulit dibuat suatu metode yang dapat digunakan untuk setiap populasi vegetasi namun berdasarkan pengalaman dapat disusun metode yang agak bersifat umum dengan beberapa variasinya.

1. Distribusi petak contoh
Jika komposisi suatu vegetasi benar-benar merata, maka cukup mengambil satu petak contoh dengan luas tertentu yang dapat mewakili seluruh populasi vegetasi. Keadaan yang demikian hanpir tidak pernag ada, baik mengenai topografinya maupin sifat-sifat tanah dan lingkungannya, yang semua itu tercerminkan pada populasi vegetasinya yang sangat berbeda-beda
Dalam hal yang demikian ini, maka petak contoh harus diletakkan pada semua bagian area yang akan diamati. Distribusi petak contoh disesuaikan dengan sifat masing-masing vegetasi dan faktor-faktor lainnya, distribusi akan meliputi berbagai cara, yakni cara subyektif, sampling acak tidak langsung, cara berurutan dan sampling bertingkat.
a. Cara Subyektif
Sampling yang paling sederhana adalah dengan cara memilih sejumlah petak contoh yang menurut pengamatan dapat mewakili populasi seluruh area. Cara lain yang kadang-kadang dianggap cukup teruji ialah dengan melempar alat petak contoh untuk menentukan letak petak. 
b. Sampling Acak tidak Langsung
Cara ini adalah yang paling sederhana dan memenuhi syarat statistika (valid). Seluruh area dibagi-bagi dalam jarak yang sama sebagai letak contoh, letaknya dipilih secara acak. Yang paling mudah, pada petak kasar yang dibuat diletakkan kaki-kaki sumbu salib pada tepinya. Kemudian secara berpasangan nilai koordinat pada sunbu X dan Y dipilih dengan undian atau dengan daftar nilai acak pada buku-buku statistik.
c. Sampling Beraturan
Karena alasan-alasan tersebut diatas, maka meletakkan petak contoh secara beraturan dengan jarak sama dalam seluruh area adalah kemungkinan yang paling memuaskan. Dalam kenyataan sampling beraturan memberikan hasil yang lebih mendekati kebenaran dibandingkan sampling acak.
d. Sampling Bertingkat
Sampling bertingkat ini diperlukan bila vegetasi terdiri atas beberapa blok atau stratum yang berbeda-beda fisionominya. Dalam keadaan yang demikian, area dibagi-bagi dalam stratum yang mempunyai fisionomi sama dan pada setiap stratum dilakukan sampling acak.
Misalkan suatu area mempunyai tiga strata A,B dan C. setelah dibuat batasnya maka dilakukan sampling acak pada A,B dan C. cara sampling bertingkat dimaksud untuk memperoleh nilai variabilitas pada petak contoh dalam stratum yang lebih kecil daripada nilai variabilitas antar stratum sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. http://id.wordpress.com/tag/vegetasi/ ( diakses tanggal 6 Mei 2011)
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara : Jakarta.
Rahardjanto, Abdulkadir. 2001. Ekologi Umum. Umm Press: Malang.
Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta: UI Press.
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB: Bandung.
Syamsurizal. 2000. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Padang: FMIPA UNP
Tim Ekologi Tumbuhan. 2011. Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan. Padang: FMIPA UNP
Tinny D. Kaunang dan Joi Daniel Kimbal. 2009. Komposisi dan Struktur Vegetasi Hutan Mangrove di Taman Nasional Bunaken Sulawesi utara vol. 17 (jurnal)


PB09

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar